Aku mungkin bukanlah wanita yang bisa memahami sepenuhnya.
Aku mungkin bukan pula sosok wanita yang bisa memberi kebahagiaan yang seutuhnya.
Aku mungkin belum dapat menjadi diriku sebagai wanita terindah dalam hidupmu sebenarnya.
Aku memang berbeda, aku pun tak sama.
Aku bukanlah semak yang penuh dengan semak ketidakpastian.
Aku bukan prasasti yang hanya dapat dinikmati keabadiannya.
Aku menyepi, menyepi lebih baik daripada harus terus mengoceh tak berarti.
Sampai saat dimana aku temui titik terang yang dapat mempertemukanku pada pencerahan hati.
Titik yang ku anggap dapat memberiku kesejukkan dalam jiwa.
Titik dimana aku dapat bereksplorasi bersama hati.
Titik yang membuatku mampu bangkit dari keterpurukan masa.
Saat hari mulai petang, kan ku petik buah manis
Yang kan ku bagi serta bersama bersama kasih dalam buai lembayung senja
Saat hari kian pekat, ku kan tertidur
Tertidur bermimpi indah,
Tatkala masaku tlah bersinar bak kilauan bintang di malam kelam
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Dalam Kalbu
Dalam Kalbu
Malam semakin larut, orang-orang satu persatu pergi beristirahat
Namun aku masih terpaku di sudut ruangan, tenggelam dalam pekatnya malam
Termenung, namun entah apa yang sedang aku pikirkan kala itu
Denting waktu terdengar begitu berirama, bertolak belakang dengan detak jantungku ini yang tak karuan
Diluar terdengar rintik-rintik hujan ikut meramaikan suasana malam menjelang pagi itu
Alunan melodi indah bergema dalam ruang malam itu
Semakin pekatnya malam dingin pun menusuk rusukku
Ku dekap erat lutut ini, mencari sedikit kehangatan di tengah rinai hujan yag turun kala itu
Ku rasakan begitu kuat perasaan dalam hati yang menyeruak di dada
Tak terasa bulir demi bulir kristal air meluncur dari pelupuk mata
Menatap langit-langit ruang tak ku temui jawabnya
Mencoba berpaling dari situasi nan terhimpit
Namun tak pula dapat meredam gejolak dalam dada
Membuat keadaan lebih teratasi pun sulit
Hanya mampu mencibir dan bungkam
Batin ini perih, terkoyak hingga tak kuasa ku redam
Napasku membabi buta seakan diburu
Tak ku hiraukan selama apa ku terhimpit
Tak ku hiraukan air mata yang terus meluncur di pipi tirusku
Bayangan itu kian muncul di hadapanku
Lebih pekat lebih dalam ku selami
Seraut wajah kian terlihat jelas ku lihat
Rindukah engkau padaku?
Tak inginkah engkau tau keadaanku?
Tak inginkah engkau berjumpa denganku?
Tak taukah engkau bahwa ku slalu merindukanmu?
Merindukan belai kasih dari tangan lembutmu
Merindukan peluk erat dekap tubuhmu
Memanjakanku sepenuh hati
Yakinlah engkau padaku
Suatu saat aku kan kembali membawa berita bahagia untukmu
Namun berjanjilah padaku,
Kau akan slalu setia menungguku disana
Menanti kebahagiaan yang ku bawa untukmu, hanya untukmu
Aku BelaJar menCinta
Dalam cahayamu aku belajar mencinta
Dalam kecantikanmu, aku belajar menulis puisi.
Kau menari-nari di dalam dadaku
Dimana tak seorangpun menyaksikanmu,
Namun terkadang kusaksikan,
Dan kesaksian itu menjadi seni ini
Dalam kecantikanmu, aku belajar menulis puisi.
Kau menari-nari di dalam dadaku
Dimana tak seorangpun menyaksikanmu,
Namun terkadang kusaksikan,
Dan kesaksian itu menjadi seni ini
Sang Hantu Kesenangan
Dialah sang hantu kesenangan
Tatkala dia berkilau di pandangan
Sebentuk khayal indah, terkirim untukku
Untuk menjadi hiasan selingkar waktu
Kedua matanya seolah bintang-bintang di keramaian senja kala
Laksana milik sang senja pula, rambutnya nan gulita
Namun semua yang lain tentangnya amatlah sama
Dari hari-hari di bulan Mei dan sang ufuk yang ceria
Liukan sebuah tarian, sebentuk bayangan yang menyaru
Untuk menghantui, memberi kejutan dan diam-diam menyerangku
Aku memandangnya lewat batas pandang terdekat
Sesosok roh, perempuan dalam hakekat
Kesibukan rumah yang dilakukannya tampak ringan dan lepas
Dan langkah-langkahnya laksana si perawan pembebas
Raut tenang di wajahnya gambaran segala kerja telah habis
Manis yang pasti akan tetap dikenang manis
Satu mahluk yang tidak terlalu pandai dan baik
Sebagai makanan sehari-hari untuk kemanusiaan
Sebagai penderitaan singkat, ratapan-ratapan sederhana,
Memuja, menyalahkan, mencinta, mencium, berurai air mata, tersenyum
Dan kini kusaksikan dengan kebeningan mata
Getaran sesungguhnya dari si penyeranta
Sehembus nafas kehidupan yang penuh makna
Pengelana antara hidup yang nyata dan alam fana
Segala alasan telah menjadi jelas, kebersahajaan menjadi pasti
Ketabahan, kecermatan, kekuatan dan keterampilan diri
Seorang perempuan sempurna, diciptakan dengan cara-cara mulia
Untuk memberi peringatan, memberi kenyamanan dan memerintah
Dan tetap saja sesosok roh, yang cemerlang
Berhias cahaya malaikat nan gemilang
Tatkala dia berkilau di pandangan
Sebentuk khayal indah, terkirim untukku
Untuk menjadi hiasan selingkar waktu
Kedua matanya seolah bintang-bintang di keramaian senja kala
Laksana milik sang senja pula, rambutnya nan gulita
Namun semua yang lain tentangnya amatlah sama
Dari hari-hari di bulan Mei dan sang ufuk yang ceria
Liukan sebuah tarian, sebentuk bayangan yang menyaru
Untuk menghantui, memberi kejutan dan diam-diam menyerangku
Aku memandangnya lewat batas pandang terdekat
Sesosok roh, perempuan dalam hakekat
Kesibukan rumah yang dilakukannya tampak ringan dan lepas
Dan langkah-langkahnya laksana si perawan pembebas
Raut tenang di wajahnya gambaran segala kerja telah habis
Manis yang pasti akan tetap dikenang manis
Satu mahluk yang tidak terlalu pandai dan baik
Sebagai makanan sehari-hari untuk kemanusiaan
Sebagai penderitaan singkat, ratapan-ratapan sederhana,
Memuja, menyalahkan, mencinta, mencium, berurai air mata, tersenyum
Dan kini kusaksikan dengan kebeningan mata
Getaran sesungguhnya dari si penyeranta
Sehembus nafas kehidupan yang penuh makna
Pengelana antara hidup yang nyata dan alam fana
Segala alasan telah menjadi jelas, kebersahajaan menjadi pasti
Ketabahan, kecermatan, kekuatan dan keterampilan diri
Seorang perempuan sempurna, diciptakan dengan cara-cara mulia
Untuk memberi peringatan, memberi kenyamanan dan memerintah
Dan tetap saja sesosok roh, yang cemerlang
Berhias cahaya malaikat nan gemilang
_KeTeGaRan HaTi_
Disetiap lapis masa lalu
Dimana angin membatu dan musim tak lagi bergerak
pusaran waktu membuatku terhempas
lalu lepas
dari serpihan detik yang terus mengalun
menuju kehampaan kalbu dan hasrat
yang lantas menjelma menjadi noktah-noktah pucat dirangka langit
Kini,
diujung penantian
tegak kupancang tubuhku menantang badai
dan apapun juga
yang membuat
setiap desah nafasku
luruh bersama asa
Dimana angin membatu dan musim tak lagi bergerak
pusaran waktu membuatku terhempas
lalu lepas
dari serpihan detik yang terus mengalun
menuju kehampaan kalbu dan hasrat
yang lantas menjelma menjadi noktah-noktah pucat dirangka langit
Kini,
diujung penantian
tegak kupancang tubuhku menantang badai
dan apapun juga
yang membuat
setiap desah nafasku
luruh bersama asa
_RinDu_
Pernahkah kau bayangkan
Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram langit
Adalah wujud rinduku yang luruh dalam hening
Dan tenggelam dalam kerik jengkerik di beranda
Pernahkah kau bayangkan
Disetiap rentang waktu yang riuh
dimana kurekat erat binar matamu
Selalu kutitipkan harap disana
Dalam desau angin dan desir gerimis senja
Pernahkah kau bayangkan
Pada kelopak mawar disudut taman
Dan jernih embun yang menitik diatasnya
Kusimpan gigil gairahku yang membara padamu
Disetiap tarikan nafas
saat kulukis paras purnamamu di kanvas hatiku
Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram langit
Adalah wujud rinduku yang luruh dalam hening
Dan tenggelam dalam kerik jengkerik di beranda
Pernahkah kau bayangkan
Disetiap rentang waktu yang riuh
dimana kurekat erat binar matamu
Selalu kutitipkan harap disana
Dalam desau angin dan desir gerimis senja
Pernahkah kau bayangkan
Pada kelopak mawar disudut taman
Dan jernih embun yang menitik diatasnya
Kusimpan gigil gairahku yang membara padamu
Disetiap tarikan nafas
saat kulukis paras purnamamu di kanvas hatiku
Tentang keHiLangan daN PengoRbaNan
Ceritakan padaku tentang pedihnya sebuah kehilangan
Yang terbang diatas awan senja merah saga
Dan menyisakan ngilu menikam didada
Dalam derap waktu yang bergegas
Agar segera kubaluri hatimu
Dengan sejuk bening embun
Dan tulus cintaku
Ceritakan padaku tentang perihnya sebuah pengorbanan
Yang membakar habis segenap asamu
Dan meninggalkan sepotong lara mengendap di dasar kalbu
Agar kubuatkan untukmu
Rumah diatas awan
tepat dipuncak larik pelangi
Yang kubangun dari setiap desir rindu dan
Khayalan merangkai impian bersamamu
Dari bilik hatiku, yang senantiasa percaya
Kebahagiaan kita adalah
keniscayaan tak terlerai
Yang terbang diatas awan senja merah saga
Dan menyisakan ngilu menikam didada
Dalam derap waktu yang bergegas
Agar segera kubaluri hatimu
Dengan sejuk bening embun
Dan tulus cintaku
Ceritakan padaku tentang perihnya sebuah pengorbanan
Yang membakar habis segenap asamu
Dan meninggalkan sepotong lara mengendap di dasar kalbu
Agar kubuatkan untukmu
Rumah diatas awan
tepat dipuncak larik pelangi
Yang kubangun dari setiap desir rindu dan
Khayalan merangkai impian bersamamu
Dari bilik hatiku, yang senantiasa percaya
Kebahagiaan kita adalah
keniscayaan tak terlerai
pRaSangka
Meski sejenak bertemu, aku bahagia bisa kembali melihatmu
Di batas-batas kerinduan dan kehampaan tak terasa airmata menetes di pipiku
Hati yang mati suri, tiba-tiba terjaga dan berkata bahwa sesungguhnya rasa masih ada
Baru kumengerti bahwa rasa tak pernah pergi dan sepertinya takkan terganti
Sekeras apapun kumencoba, selemah apapun daya tuk mengingatnya
Hati miliki pilihannya sendiri yang tak bisa diatur oleh akal
Kukira aku sudah berhenti berharap di sekian waktu yang lalu
Kukira aku tak punya lagi hasrat untuk bertemu
Kukira… aku takkan lagi melihatmu seindah seperti dulu
Hingga kemarin aku tahu bahwa segalanya tak ada yang berubah
Hanya setumpuk perkiraanku saja yang salah
Di batas-batas kerinduan dan kehampaan tak terasa airmata menetes di pipiku
Hati yang mati suri, tiba-tiba terjaga dan berkata bahwa sesungguhnya rasa masih ada
Baru kumengerti bahwa rasa tak pernah pergi dan sepertinya takkan terganti
Sekeras apapun kumencoba, selemah apapun daya tuk mengingatnya
Hati miliki pilihannya sendiri yang tak bisa diatur oleh akal
Kukira aku sudah berhenti berharap di sekian waktu yang lalu
Kukira aku tak punya lagi hasrat untuk bertemu
Kukira… aku takkan lagi melihatmu seindah seperti dulu
Hingga kemarin aku tahu bahwa segalanya tak ada yang berubah
Hanya setumpuk perkiraanku saja yang salah
Bila Aku Jatuh Cinta
Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
