Pages

Bagger 288

Mesin tambang raksasa sejenis excavator buatan Krupp, pabrikan asal Jerman, ini berukuran panjang 300 meter dan berat 45.500 ton, dan mampu bergerak dengan roda rantainya di banyak area pertambangan terbuka.

         

    Kabar perpindahan terakhirnya terjadi pada tahun 2001, ketika mesin ini bergerak dari satu pertambangan ke pertambangan yang lain – menempuh jarak 22 kilometer, menjelajahi daratan, jalan-jalan raya, menyeberangi rel-rel kereta api, pinggiran kota dan pedesaan. Karena mesin ini tidak bisa begitu saja melewati rintangan-rintangan itu -karena bisa merusaknya- para pekerja menyiapkan lapisan pasir untuk alas disepanjang jalannya ketika melewati rel KA, jalan-jalan raya, memindahkan tiang-tiang listrik, dan menyebarkan rumput-rumput khusus di atas tanah yang dilaluinya untuk mempermudah jalannya.
    Butuh waktu 3 minggu untuk memindahkannya! Ketika sampai di tempatnya mesin ini akan melahap bukit-bukit batubara, batu-batu karang dengan rakus.

Di Balik Warna Bendera Indonesia

     Menuju detik-detik HUT Kemerdekaan Indonesia ke-67, secara tidak sengaja saya berpikir kenapa dulu Ir. Soekarno (atas nama bangsa Indonesia) itu memilih warna merah dan putih sebagai warna untuk bendera Negara Indonesia? Hayoh siapa yang tahu alasannya kenapa?
     Saya mencoba mengulas beberapa fakta di balik Sangsaka Merah Putih, kita simak yuu ahh..

                            

1. Seluruh negara Asia Tenggara pasti memiliki warna Merah dan Putih dalam benderanya (kecuali Vietnam).

2. Merah Putih merupakan pasangan warna tertua dalam budaya banyak negara dunia.
- Ibnu Qudamah berkata :
Dan tahukah teman? Ternyata diantara pakaian Nabi Muhammad SAW itu adalah pakaian warna putih dan merah. Sebagaimana hadits:
- Dari Jabir bin Samurah ra : 
“Saya ketika itu melihat Nabi berpakaian merah, lalu saya membandingkannya dengan bulan. Ternyata dalam pandangan saya, beliau lebih indah daripada bulan.” (HR. Abu Ya’la dan Al-Baihaqi)
 “Pakaian yg paling utama adalah pakaian yg berwarna putih karena Nabi bersabda, ‘Sebaik-baik pakaian kalian adalah yg berwarna putih. Gunakanlah sebagai pakaian kalian dan kafan kalian.” (al Mughni, 3/229)

3. Secara anatomi, merah putih merupakan warna tertua dalam tubuh manusia.
    Sejak janin dibentuk di dalam rahim, maka ia terdiri atas darah & daging (merah) dan tulang (putih). Dalam darah manusia pun hanya terdapat dua sel darah yakni Sel Darah Merah & Sel Darah Putih.

4. Secara geologi, Merah & Putih merupakan representasi dua unsur alami yang terpanas dan terdingin di bumi. Yang terpanas adalah lava atau inti bumi (berwarna merah), dan yang terdingin adalah salju (berwarna putih).

5. Secara optik, Merah adalah warna dengan frekuensi cahaya paling rendah yg masih dapat ditangkap mata manusia dengan panjang gelombang 630-760 nm. Di sisi lain, bila seluruh warna dasar digabung dengan porsi dan intensitas yg sama, maka akan terbentuk warna Putih.

6. Cahaya Merah adalah cahaya yg pertama diserap oleh air laut, sehingga banyak ikan dan invertebrata kelautan yg berwarna Merah. Di sisi lain, riak gelombang air laut selalu terlihat berwarna Putih. Jadi, bisa dikatakan, Merah Putih itu sendiri merupakan simbolisasi dari laut itu sendiri. Tak heran, Indonesia yg merupakan negara maritim / negara kepulauan memilih untuk memiliki bendera Merah Putih.

     Semoga dengan informasi yang saya sampaikan kita selaku penduduk Indonesia bangga akan bendera Kebangsaan kita. Juga agar setiap generasi penerus Bangsa menghargai jasa serta pengorbanan para pendahulu kita yang telah banyak berkorban segalanya demi tegaknya bendera Indonesia lambang kedaulatan Bangsa kita, Negara Indonesia.

TIGA MAKNA TERSELUBUNG ANTARA EKSIS DAN INTERNET

Pada awalnya kehadiran internet di Indonesia hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu dan hanya untuk keperluan hiburan saja. Kemudian dari waktu ke waktu perkembangan komunikasi dan teknologi di tanah air semakin pesat. Dan masyarakat mulai menyadari bahwa internet ini memiliki peranan yang penting dalam kehidupan di era globalisasi ini. Dengan adanya internet ini mampu mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia menjadi lebih modern dan sekarang tidak ada lagi istilah gaptek (gagap teknologi).
Saat ini ada sekitar 9 operator telepon selular di Indonesia. Dan baru-baru ini muncullah sebuah operator selular baru yang menamakan dirinya dengan nama Axis. Operator selular ini menawarkan tarif yang mampu bersaing dengan operator selular lainnya.
Kini kehadiran Axis dengan balutan jargonnya “Internet untuk Rakyat” mampu menjawab keinginan user internet di tanah air, yakni mereka menginginkan akses internet yang murah juga cepat. Terutama bagi mereka, para pengguna internet yang berada di daerah-daerah juga di pelosok negeri ini. Sehingga mereka dapat menikmati perkembangan teknologi informasi dengan aman dan  nyaman. Tanpa perlu khawatir pulsa mereka cepat habis atau bahkan khawatir akan jaringan koneksi internet yang buruk oleh karena sinyal yang kurang mendukung.
Para pengguna internet dapat melalukan apa saja yang mereka inginkan dengan akses internet yang murah dan cepat. Mereka dapat menggunakan internet untuk social networking, searching information, downloads, e-mail dan lain sebagainya. Sesuai dengan namanya “Axis”, maka operator selular ini mengajak pada para penggunanya untuk tidak hanya eksis di dunia nyata melainkan eksis pula di dunia maya. Eits, tapi hati-hati kalau user sudah mulai mabuk kepayang dengan yang namanya internetan, saking murah dan cepatnya internetan jadi lupa diri.
Nah menurut pandangan saya, ada 3 kata yang bermakna dibalik kata “Eksis” tersebut. Tiga kata bermakna itu adalah ekspresif, sinergi dan seimbang. Mengapa harus ekspresif, sinergi dan seimbang? Karena jika kita padukan ketiga kata tersebut, kita akan dapatkan suatu pemaparan yang kohesif bagi kehidupan masa kini yang telah memasuki era globalisasi.
Yang pertama, ekspresif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian ekspresif yaitu tepat (mampu) memberikan (mengungkapkan) gambaran, maksud, gagasan, perasaan. User internet bebas untuk memulai menggunakan internet kapanpun, dimanapun, untuk apapun, serta bagaimanapun caranya, semua bebas dilakukan. Sekedar browsing di Google, update status di twitter, facebook atau social networking lainnya, bahkan mencari pekerjaan pun dapat dilakukan menggunakan internet. Seperti itulah user mengenal internet, sehingga gaya hidup baru di Indonesia ini tak kenal usia. Bisa jadi user internet itu bisa menjadi artis bagi kalangannya sendiri. Dan masih banyak lagi kebebasan yang bisa user curahkan dengan internet.
Yang kedua, sinergi. Sinergi dijelaskan sebagai kombinasi unsur atau bagian yang dapat menghasilkan keluaran lebih baik dan lebih besar. Dengan semakin meluasnya jaringan internet di berbagai sektor kehidupan masyarakat telah menyebabkan terbukanya peluang bagi penyalahgunaan internet yang lebih dikenal dengan istilah kejahatan dunia maya atau cybercrime. Agar pemanfaatan internet dapat digunakan secara baik dan benar sehingga dapat terhindar dari kejahatan di internet, maka perlu adanya kerja sama antara penyedia layanan internet, para pengguna internet dan juga pemerintah serta saling sinergi dalam rangka membangun karakter generasi bangsa yang baik dan bermartabat.

Yang terakhir, seimbang. Seimbang dapat diartikan tidak berat sebelah atau sebanding. Di jaman sekarang ini banyak orang yang berlebihan dalam bermain internet. Ada saja dampak negatif yang ditimbulkan, apalagi sekarang dengan perkembangan yang sangat pesat. Agar user dapat ber-internet dengan aman (mengamankan isi dompet :D ) tetapi tetap eksis, maka user harus dapat menerapkan ber-internet dengan aman (sekali lagi saya tekankan mengamankan isi dompet :D ). Apakah yang dimaksud dengan ber-internet dengan aman itu? Berinternet dengan aman adalah berinternet dengan tanpa mengorbankan apapun, dalam artian kita tidak perlu mengorbankan uang makan kita hanya karena kita ingin berinternet ria. Semua yang berlebihan (Lebay) itu berarti tidak seimbang, sobat. Jangan karena berinternet saja uang kita habis, lantas kita tidak makan. Ada baiknya kita pilih paket internet yang murah.
Nah, bagi kamu-kamu yang suka eksis di social media, tidak ada salahnya mencoba paket Axis Eksis yang baru-baru ini diluncurkan Axis khusus bagi yang suka eksis di dunia maya. Cukup dengan pulsa Rp. 9.900 kita sudah bisa menikmati internetan di dunia maya dengan kuota yang unlimited dengan batas waktu internetannya satu minggu. Mana ada paket internet yang murahnya seperti Axis Eksis. Come on, try it and enjoyed!

Meine Geschichte

Dini hari begini aku belum dapat memejamkan mata ini. Padahal raga ini telah lelah seharian beraktifitas. Namun pikiranku terus saja memikirkan hal tadi sore. Mungkin memang tak banyak yang dapat ku perbuat untuknya. Aku sadari, aku hanya bisa membuatnya menjadi orang yang merugi., membuat dirinya selalu masuk ke dalam zona "down". Kalau lah saja aku bisa menukarnya, akan ku tukar keadaannya sekarang dengan keadaanku.
Meskipun yang ia katakan begitu nancleb di hati, tapi ya sudahlah. toh lagi keadaan kayak begitu pasti "down" banget. Aku cuma sekedar ingin berbagi,sob.
Dulu, sekitar 3 tahun yang lalu. Saat aku masih duduk di bangku menengah atas. Aku juga pernah mengalaminya. Mugkin bisa dikatakan bukan pernah lagi tapi sering mengalami keadaan seperti dirinya. Aku dulu bisa disebut siswi pandai. tak ayal peringkatku di kelas selalu menjadi bintang, hingga aku lulus bangku menengah pertama. Namun seperti Allah memiliki kado untukku. Setelah aku menjadi siswi sekolah menengah atas. Kehidupanku yang dulu sebagai bintang kelas berubah 180 derajat menjadi siswi biasa-biasa saja, bahkan mungkin bagis ebagian guru di sekolah itu aku dikategorikan siswi dengan IQ rendah.
Tahun pertama, aku benar-benar terpuruk oleh keadaan yang menghimpitku. Hingga sampai aku dalam seminggu menangis dan merengek-rengek pada orangtuaku untuk mengurus kepindahanku. Yaa secara, aku berada di kelas unggulan yang notabene siswa-siswinya berasal dari siswa-siswi teladan di kotaku. Ditambah lagi dengan kegiatan belajar mengajar yang hampir sebagian besar penyampaiannya menggunakan bahasa inggris. Makin ngga betah aku dibuatnya :'( Alhasil, di akhir tahun pertama aku bersekolah disitu mendapat peringkat yang buruk karena hasil belajarku selama setahun disitu hanyalah berbuah Doremifasol saja (seperti lagunya Budi-Doremi). Dan mungkin disinilah kesabaranku diuji oleh Allah.
Pada saat itu, aku berpikir mungkin seperti inikah perasaan hati teman-temanku dulu yang mendapat peringkat
jauh dibawah peringkatku. Ya Rabb, Engkau yang memiliki segalanya. Ampuni aku yang telah kufur dari nikmat-Mu :'( Sedih? Jelas! Sakit hati? Oh tentu! Namun apakah aku akan terus seperti ini diam dalam keterpurukan? Oh, tentu TIDAK! Bangkit itu susah. Susah jika kita harus selalu berteman dengan kegelapan.
Tahun kedua mulai berjalan. Sedikit demi sedikit aku mulai merangkak naik. Mulai ada pencerahan di setiap hariku. Namun, ujian kembali menhampiriku. Di akhir tahun kedua ini, nilai Fisika aku benar-benar merah! Tak tahu harus bagaimana :'( Hingga sampai orangtuaku dipanggil untuk menghadap guru bersangkutan. Setelah urus mengurus dan aku harus melakukan serangkaian ujian tulis dari guru tersebut, akhirnya akupun bisa naik kelas dengan nilai yang pas-pasan (pas diongkos kali yaa).
Bosan dengan kegiatan belajar yang membuat hatiku malah panas dan menjadi uring-uringan saja jika belajar, maka aku alihkan perhatianku pada kesibukan di organisasi sekolah. Untungnya bisa membuatu lebih enjoy menikmati hidup sebagai pelajar dalam euforia putih-abu.
Tahun ketiga, aku menjadi pelajar adalah tahun terakhir aku menimba ilmu disitu. Barulah aku merasakan perubahan yang signifikan pada kegiatan belajarku baim di sekolah maupu di rumah. Mungkin karena kali itu merupakan tahun terakhir dan juga babak penentuan kelulusan, jadi aku bersungguh-sungguh menjalaninya.
Dan ujian pun datang kembali saat aku mendaftar di sebuah Perguruan Tinggi di Jawa Tengah namun hasilnya aku tidak diterima. Aku mulai berpikir mengapa aku seperti ini? Apa salahku? Aku tiba-tiba teringat akan sesuatu hal. Restunya orangtua adalah restu Allah. Dan aku langsung menyadari bahwa pilihanku itu memang tidak direstui oleh orangtua, karena terbentur dengan biaya yang besar (secara pilihan jurusan kuliah yang aku inginkan itu membutuhkan banyak dana). Maklum, orangtuaku hanya wiraswasta yang tak tentu pendapatannya. Bukan pegawai negeri sipil yang sudah mendapat sertifikasi ataupun gaji ke-13. Tapi aku bersyukur masih diberi orangtua yang utuh dan juga berlimpah kasih sayang, tak kurang suatu apapun.
Dan sekarang pun aku kuliah di sebuah Perguruan Tinggi di kota Kembang inilah berkat restu dari orangtua, yang walau bertolak belakang dengan keinginan hatiku ini. Disini aku sebagai mahasiswi, menjalani hari-hari dengan biasa saja. Tak ada ambisi yang membara, seperti dulu waktu aku masih memakai seragam putih-biru. Kini yang ada hanyalah rencana hidupku di masa depan mau jadi apa dan dengan cara bagaimana aku membalas semua pengorbanan dan jasa orangtua juga membahagiakan keluargaku kelak.
Semoga rencana-Mu untukku indah di saat yang telah Engkau siapkan untukku. Karena aku yakin rencana-Mu takkan salah dan takkan merugikanku. Terimakasih Ya Rabb, Engkau masih memberiku ujian dalam hidupku. Namun Engkau selalu memberiku kesempatan agar aku kembali. Karena itu pertanda bahwa Engkau selalu mengingatku sebagai hamba-Mu.

Bungkam dalam Ketidak-adilan

Hari yang begitu melelahkan bagiku. Masih ku ingat tadi pagi ia menyapaku dengan hangat lewat ponsel. Membangunkanku dari mimpi indahku. Ku coba membuka mata melihat isi pesan di layar ponsel. Saat ku buka isi pesannya membuat semangat menjalani hari ini.
Menit demi menit ku lewati, menjalankan aktifitas seperti biasa, namun dengan semangat yang berbeda dalam jiwaku. Ah rasanya hari ini begitu nyaman akan ku jalani. Hingga sore pun tiba, ups! Sayang sekali, hari ini bukan menjadi bagian yang indah dalam hidupku. Kejadiannya begitu cepat. Sebuah pesan singkat yang ku dapat darinya membuatku merasa bersalah atas apa yang terjadi. Ia memberitahuku nilai beberapa mata kuliah. Hariku ini berubah menjadi mendung. Tak ayal membuat pikiranku terus berkelana tak tentu arah. Bukan aku tak mensyukuri atas apa yang telah aku terima, namun yang ada di otakku hanyalah keadaan dia pasca pengumuman nilai mata kuliah itu.
Petang telah berlalu. Setelah masuk waktu magrib dan selesai aku tunaikan ibadah, tiba-tiba... Triiiingg! Ide muncul di kepalaku. Langsung ku sambar ponsel di meja. Aku bertanya pada temanku mengenai nomer HP dosen yang bersangkutan (sebut saja Mr. X). Tak lebih dari 1 menit, nomer Mr. X itupun sudah aku simpan di phone book ponsel. Kini aku tinggal memencet tombol call di ponsel untuk menelepon Mr. X tersebut. Awalnya ragu, namun aku beranikan diri untuk menelepon Mr. X. Telah aku pikirkan resiko apapun yang akan terjadi akan aku terima. Semua ini demi dia, aku ngga mau dia kembali down.
Akhirnya teleponku dijawab dari seberang sana.
Aku: "Halo. Selamat sore Mr.X. Ini saya bla bla bla bla bla........"
Mr. X: "Kan saya sudah kasih kunci jawaban UASnya kemarin."
Aku: "Tapi Mr.X, saya bla bla bla bla......"
Mr. X: " Iya, kan saya bilang kunci jawabanya sudah saya kasih kemarin. Kenapa kamu ngotot meminta hasil ujian kamu! Kamu kan pasti inget pas ujian kamu mengisi apa, tinggal samakan saja dengan kunci jawaban yang saya kasih!"
Aku: "Tapi Mr.X, bla bla bla bla......"
Mr.X: "Sudah! Siapa nama kamu?"
Aku: "Nama saya bla bla bla....."
Mr.X: "Kamu sudah lulus! Ya sudah kan beres?!"
Aku: "Yaudah Mr.X, makasih. Selamat sore!"
Dengan nada kesal aku tutup teleponku itu. Tak ku dapat hasil yang aku inginkan, langkahku gontai menyusuri dinginnya malam di kota Kembang ini. :(
Susahnya mencari keadilan di sekumpulan kedok-kedok pengecut yang tak mau dirinya terinjak hanya karena menginginkan goal yang menakjubkan yang padahal pada kenyataanya semua itu didasari atas keuntungan individual.